Disclaimer !
Sudah sedari awal sebenarnya saya males membuat postingan dengan tag religi. Bukan karena apa-apa, saya takut akan menimbulkan banyak salah persepsi. Dan yang saya takutkan memang terjadi. Berbicara tentang keyakinan ibarat bicara tentang sisi dua mata koin yang selalu berseberangan. Benar di mata saya, belum tentu di mata sampeyan. Begitu-pun juga sebaliknya. Yang di perlukan adalah kedewasaan dalam mensikapi perbedaan. Jika sampeyan berbicara tentang keyakinan, sama saja membicarakan suatu kebenaran yang tidak absolut. Semua orang pasti akan meng-klaim keyakinan dia yang terbaik, keimanan dia yang terkuat dan sebagainya dan sebagainya. Memperdebatkannya pun tidak akan menghasilkan apa-apa.
Jikapun ada dari anda memaksakan pendapat tentang kebenaran keyakinan anda kepada orang lain, jangan harap orang itu akan berubah seketika berada di pihak anda, dan mengikuti keyakinan anda. Tentu tidak semudah itu. Ada proses panjang pencarian, perenungan dan tentu saja hidayah kepada yang bersangkutan, jika-pun ada orang yang ingin memperdalam sebuah keyakinan. Bukan dengan melantur, dengan memaksakan kehendak, menghina dan mencaci maki-nya.
Pengalaman spritual yang dialami oleh saya, itu adalah hak saya. Itu interaksi saya dengan Dia. Secuil apapun pengalaman religi saya, itu anugerah yang saya peroleh. Jika-pun saya dianggap lemah iman, itu tidak masalah bagi saya. Mungkin bila sampeyan mau berpikir lebih jauh, justru dari hal-hal kecil inilah kita akan mengenal lebih jauh kehadiran-Nya. Dari pada sampeyan yang sudah ngaku-ngaku kuat iman, tapi baru baca postingan gak mutu dari saya saja sampeyan sudah kalap dengan menghina dan ngata-ngatain saya. Justru kelihatan siapa anda dan bagaimana sebenarnya tingkat keimanan anda. Oke?
Saya tidak mau berlarut-larut dalam perdebatan yang tidak
mutuberguna ini.”
Filed under: influence, religi, thought | 38 Comments

musti sabar ya jeng!! -kaya iklan waktu ramadhan-
koq ada ya orang kaya gitu?? nih… jepret (pake hape kamera) -iklan ramadhan v2-
yang sabar jeng.. ependi dibelakang sana tetep mendukung situ (ga termasuk aku loh jeng) hihi….
mending hiatus aja dulu jeng (holoh.. baru tau hiatus aja nggaya wakakakaka…)
wokeh! semangat jeng!
@waterboom
ependi? wakakaka..
Jangan dengerin si Imam jeng, ngapain hiatus cuma gara-gara dicambuk?
Bukankah besi harus dibakar dan ditempa agar menjadi pisau?
sip…
smoga si manusia sok sempurna itu bisa membaca tulisan ini dengan kacamata yang jauh lebih bijaksana..
salam kenal…
Salam,
Ok banget lho dengan “on your way”nya.
Buat saya sih betul2 manfaat dan mengingatkan sekali.
Hanya saya tidak komen karena justru prihatin dengan sebagian komen2 yang “lho koq gini?”,
Dan postingan saya, bukan mengkritisi “on your way”nya tapi lebih karena sebagian komen2nya itu,
salam,
kalo pengecut emang cuman berani tampil pake topeng MONYET!!
santai aja, bro…
eh itu mestinya dicoret
tapi… ah sudahlah…
++ imam n’ jeng pengki ++
tengkyu
++ jeng sendal ++
wah, thanks buat petuahnya master
++ fa ++
biarin aja jeng, gk usah di ladenin
++ kang harry ++
sante wae kang, abdi mah teu naon-naon kok
anggeup we sora laleur
++ caplang ++
oke, tengkyu bro
Hidup jeng detnot!
Biarkan monyet bernyanyi
Sudahlah Om.. mungkin itu jawaban Tuhan atas iman Anda yang terusik..
nyari yang bener mah lieur..
eh..sebenernya saya rada tidak mengerti nich…
tapi tersenyumlah…
Hehehe…
anggap aja angin lalu yang berhasil meningkatkan page rank
*nunggu pagerank postingan ini naik lagi
*
jadi kapan cherleader boleh menari lagi . ..
@funkshit : sekarang jeng… silakan menari… *duduk manis ngeliatin jeng funkshit ber cheerleader*
yang tabah yah bung
hmm…. gi musim renungan ya Pak ?
gmana kl kita nyari kulineran aj d sekitaran bantul kang??
debat soal keyakinan? JANGAN deh …
-Ade-
@funkshit
Goyang gajah ajah kang!
*masih menikmati cheerleaderan dari jeng pangsit*
Makanya mending ada diktator di indonesia ini
masih banyak yach yg maunya pendapatnya didengar, tapi ga mau dengar pendapat org lain, well, they make us learn more, anyhow! keep writing bro
!
ga pa pa lagi. tulis terus aja, kalau ga mereka yang tak suka perbedaan gak pernah belajar. hajar terus… urusan belakangan ha ha
walah kang, urusan ngono kok dipikir
-komen nyebrang-
sing ning post sijine sih, ra ono masalah,
urusan iman kuwi urusan njenengan karo sing nitipi urip kok,
komen wong liyo ra sah dianggep, katene ngelek2 sampeyan mbok wis ben,
ra sah digagas
Moga gak muncul lagi…
wew. sabar aja yah.. ya kalo kita merasa benar dengan pemikiran kita sendiri.. jangan dengerin orang lain lah.
tag religi itu asik mas. toh fungsinya kita ngeblog kan buat melepaskan sesuatu di otak. peduli iblis sama komentator yang semrawut
justru saran saya, kalo ada yang semrawut kayak gitu, ladenin aja biar dia betah bolak-balik ke sini. lumayan buat naikin hits
mau diskusi agama kok maksa..
kecuali mau perang agama… wajar kalo memaksa..
Susah emang Jeung, kalo mau bicara kebenaran tapi orang yang anda ajak bicara tidak tahu apa itu “filosofi kebenaran”
wes ah.. ngebir dulu urang…
biasa itu jeng, komen ga tanggung jawab pake anonymous. santai aja, di nikmatin aja banyolannya dan biarin aja, ntar juga capek ndiri. dari kemaren pengen komen dsini, tapi ga bisa di opera mini, error mulu.
orang kayak begitu mah gak usah didengerin lah.. tenang, kita semua mendukungmu!
loh mestinya diskusi soal religi macam gini justru lebih dipersering. kalau ada yang setuju, ya syukur. kalau gak setuju, ya gak apa-apa. asyik aja lagi …
Perbedaan pendapat itu adalah hal yang wajar
. Yang namanya diskusi pasti akan selalu ada pemikiran yang berseberangan dan menjurus ke perdebatan panjang yang ujung-ujungnya justru saling menyerang. Bagi saya, selama tidak menimbulkan konflik berkepanjangan, sedikit berdebat justru bisa memaksimalkan kinerja otak
.
Hehehe, akur…akur…kalau emang dasar-nya untuk saling ber-bagi informasi sih sah-sah aja, tapi kalau udah sampai ke tahap perang saudara wah itu yang harus di-hindari. Tapi apa orang-orang di bangsa ini sanggup ber-diskusi secara profesional? Kalau yang di-bahas itu tentang agama? Aku tidak tahu pasti
ah, padahal sudah bawa ruyung..
mana penjahatnya?
mbak denot, hal seperti itu bukan lemah iman….
.. nggak dipungkiri sebagian besar orang beragama karena lahir ceprot dari keluarga yang beragama… seperti bangun tidur langsung tersedia nasi goreng di depan kita…
. dan menurut agama juga.. manusia diciptakan dengan akal dan pikiran… maka dari itu.. wajar aja kalo suatu pagi kita bertanya tanya tentang nasi goreng itu,.. seperti bikinan siapa, bumbunya apa, mengandung racun apa ndak….
dan pengalamannya mbak menunjukan kalo mbak denot is not typically a person who takes everything what is served in from of he/him…
…
kok komenku kebanyakan ya…
mbak detnot? wekekekekekekeke….
namanya juga keyakinan.