Asapmu bukan Untuk-Ku

09Aug07


Sudah sering saya mendapat undangan buat pernikahan sodara atau temen. Kalo ada waktu saya tidak berkeberatan untuk meluangkan waktu untuk menghadiri.
Bagaimana tidak dilihat dr keistimewaannya, undangan itu sangat berarti sekali, setidaknya si peng-undang ingat akan diri kita jadi secara tidak langsung kita di akui keberadaanya, iya kan?

Well, sebenarnya bukan itu yang ingin saya tulis tapi another thing, tapi buat pembukaan gak apalah ngomongin soal undangan berhubung saya kemarin minggu habis pergi kondangan juga. Jadi sepertinya relevan juga dengan cerita yg akan saya tulis.

Seperti biasa, saya kalo datang ke undangan pasti nyari duduk yg paling depan, tempat yang paling sering dihindari sama orang (mirip2 jaman kuliah deretan kursi dua dr depan biasanya menjadi momok yang paling tabu buat di tempati :D).
Bukan apa2 sih, duduk di tempat manapun saya bersedia, toh saya bukan tipe orang yang menganut “tabu” akan hal ini dan itu, maksud saya dengan duduk didepan saya bisa sedikit bernafas lebih bersih setidaknya terhindar dari asap rokok, yg biasanya menjadi ritual yang sangat penting bagi sebagian orang buat merokok di tempat2 seperti itu, apalagi di sebuah acara undangan pernikahan.

Maklum semenjak saya memutuskan berhenti untuk merokok 2 tahun yang lalu, saya berusaha sesedikit mungkin menghisap asap beracun itu. Walopun akhir2 ini saya merasakan berhenti merokok bukan berarti 100% terhindar dr asap beracun itu. Toh akhirnya dalam keseharian, dalam pergaulan, dan kerja saya SERING dengan terpaksa menjadi PEROKOK PASIF, dan kata sebagian pakar menjadi perokok pasif bukan berarti lebih tidak lebih berbahaya dr perokok aktif.
Tapi mau bagaimana lagi, sepertinya undang2 yang mengatur tentang rokok sepertinya menjadi lelucon yang basi saja.

Menjadi perokok pasif tentu sangat tidak mengenakan hati, tau sendirilah orang2 yg mendapat kenikmatan dr rokok, tapi kita yang di PAKSA menampung racun2 dr asap rokok mereka.
Bukan tidak mau saya mengingatkan, tapi saya gak mau dikatakan mengganggu kenikmatan orang lain.
Biarlah saya yang mengalah, dan lebih baik saya berusaha menghindari sebisa mungkin, mungkin itu cara terbaik, daripada saya kehilangan teman atau bahkan di benci orang2 gara2 saya sok MENGINGAT-kan mereka.

Walopun saya tau, ada sebagian hak saya yang di rampas mereka.



2 Responses to “Asapmu bukan Untuk-Ku”

  1. 1 Kiyat

    Ada sedikit cerita menarik sehubungan dengan topik.

    Di sebuah angkot ada seorang ibu yg lg hamil dan pemuda yang sedang merokok, di angkot tau sendiri kan duduk nya berhadap-hadapan, nah si ibu duduk berhadapan dengan pemuda yg ngrokok td.

    dr td ibu itu mengibas-kibaskan tangan berusaha membuang asap rokok. karena gak tahan akhirnya dia bilang ke si pemuda.

    Maaf dik.. tolong jangan merokok, asapnya mengganggu.. kalo saya sih gak apa, tp si kecil ini kasihan, sambil si ibu menunjuk perutnya, nunjukin kalo dia sedang hamil.

    kemudian pemuda itu mematikan rokoknya, seraya berkata. bu.. saya juga minta ibu duduk yang benar (ibu duduk dengan kaki sedikit terbuka), kalo saya si gak apa kata pemuda itu, tapi si “joni” ini yang ribut dr tadi.

    😀

  2. 2 DeathnotE

    wakakakakaka

    “Si Joni” dan “Si Bram” Memang kadang nakal juga jeng.
    Makanya perlu di bimbing sama “Tante Rosa” :D:D


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: