Jodoh Di Tangan Mertua

30Oct07

Jodoh memang rahasia Tuhan. Begitu pula kisah perjodohan yang dialami Om saya, masih saudara dekat dari trah simbah bibi saya.

Lebaran hari ke-empat yang lalu saya sempat bersilaturami dengannya, di sebuah dusun yang cukup jauh di kaki bukit daerah Bantul sana. Ngobrol sana-sini, sambil berbasa-basi ngomongin hal-hal umum sampai hal pribadi, nambah suasana terasa akrab walaupun kami sudah sangat jarang bertemu.
Om saya duda berputra dua, cerai kira-kira 7 tahun yang lalu karena alasan yang tak saya ingin tahu. Sekarang dia sudah menikah kembali dengan janda beranak satu.
Pekerjaan sehari-hari glidik (kerja) sebagai tukang bangunan, dan ketika sore hari nyambi ngarit (menyabit) rumput untuk sapi piaraannya.

Berawal dari kerja sambilannya itu Om saya mendapatkan jodoh istri keduanya yang sekarang.
Kisah perjodohannya dimulai ketika seperti biasa sepulang glidik Om saya menyempatkan diri melakukan rutinitas menyabit rumput di daerah Jalan Parangtritis, tempat menyabit rumput yang bukan tempat biasa yang selama ini dia kunjungi. Mengingat saat itu musim kemarau, jadi rumput harus dicari ditempat yang agak jauh untuk mendapatkan sekarung rumput yang masih segar dan hijau.

Saat itu akhir April 2005, ditengah2 kegalauan hidup sendiri menduda, Om saya bertemu seorang nenek yang sama-sama sedang menyabit rumput. Ngomong sana-sini, akhirnya pembicaraan keduanya sampai tentang masalah pribadi.

Om : Mbok daerah kene ono rondo ora? (Mbok daerah sini ada janda gak?)
Simbah : Kok golek rondo ki piye mas, prawan kan akeh (Kok cari janda gimana sih mas, perawan kan banyak)
Om : Isin mbok arep golek prawan, wong aku mung dudha. (Malu mbok mau cari perawan, aku kan cuma duda)
Simbah : O’ dudha tha?
Om : Hooh je mbok, dudho wes 5 tahunan. (Iya mbok, duda sudah 5 tahunan)
Simbah : Rondo anak siji arep ora? (Janda anak satu mau gak?)
Om : Gelem mbok, sing penting aku cocok (Mau mbok, yang penting saya cocok)
Simbah : Yoh, sesuk tak kenalke tanggaku. Tak tunggu nang omahku nang dusun wetan kae.
(Ya, besok saya kenalkan tetanggaku. Aku tunggu di rumahku di dusun sebelah timur sana)

Keesokan sore-nya, Om saya datang juga menyambangi rumah si nenek yang baru di kenalinya kemaren sore itu.

Om : Endi mbok rondone, gek kon moro (Mana mbok, jandanya cepetan suruh dateng)
Simbah : Yoh, enteni sedilit tak celuke’ (Ya, tunggu sebentar aku panggil)

Beberapa menit kemudian, si nenek datang sama seorang perempuan yang akan dikenalkannya pada Om saya.

“Iki lo rondone, anak siji, kowe seneng ora? (Ini lo, jandanya, kamu suka gak?)
Iki pernahe anakku nomor 2, bar wae 2 tahun dipegat bojone”. (Ini anakku nomer 2, baru 2 tahun di cerai suaminya)

Opo tumon, Om saya terlanjur naksir pada pandangan pertama
Jadilah mereka menikah, dengan perantara di jodohin secara sengaja oleh calon mertua.

Note : Di kisahkan ulang, sedekat mungkin dengan cerita asli dari Om/Pak Lik saya



One Response to “Jodoh Di Tangan Mertua”

  1. 1 Kiyat

    jodoh gak kemana jeng.. :))

    Salam buat om nya situ “Semoga Langgeng Om”.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: